Tampilkan postingan dengan label MUSUH ALAMI DAN AGENSI HAYATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUSUH ALAMI DAN AGENSI HAYATI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

KUMBANG HELM MUSUH ALAMI DAN HAMA

Kumbang kubah (kumbang helm/ koksi)
Kumbang koksi adalah salah satu hewan kecil anggota ordo Coleoptera. Mereka mudah dikenali karena penampilannya yang bundar kecil dan punggungnya yang berwarna-warni serta pada beberapa jenis berbintik-bintik. Di negara-negara Barat, hewan ini dikenal dengan nama ladybird atau ladybug. Awam menyebut kumbang koksi sebagai kepik, karena ukurannya dan perisainya yang juga keras, namun kumbang ini sama sekali bukan dari bangsa kepik (Hemiptera).  Kumbang ini ditemukan di seluruh dunia, terutama di wilayah-wilayah tempat hidup tanaman yang menyediakan makanannya. Di dunia ini kurang lebih ada sekitar 5.000 spesies dan yang terbesar panjang tubuhnya mencapai hampir 1 cm  (.http://id.wikipedia.org/wiki/Kumbang_koksi)

klasifikasi :

Natura - nature

Mundus Plinius - physical world

Naturalia

Biota
Domain
Eukaryota - eukaryotes
Kingdom
Animalia C. Linnaeus, 1758 - animals
Subkingdom
Bilateria (Hatschek, 1888) Cavalier-Smith, 1983 - bilaterians
Branch
Protostomia Grobben, 1908 - protostomes
Infrakingdom
Ecdysozoa Aguinaldo et al., 1997 ex Cavalier-Smith, 1998 - ecdysozoans
Superphylum
Panarthropoda
Phylum
Arthropoda Latreille, 1829 - arthropods
Subphylum
Mandibulata Snodgrass, 1938
Infraphylum
Atelocerata
Superclass
Panhexapoda
Epiclass
Hexapoda
Class
Insecta C. Linnaeus, 1758 - insects
Subclass
Dicondylia
Infraclass
Pterygota
Division
Neoptera
Subdivision
Endopterygota
Order
Coleoptera C. Linnaeus, 1758 - beetles
Suborder
Polyphaga Emery, 1886
Infraorder
Cucujiformia
Superfamily
Cucujoidea
Family
Coccinellidae - ladybird beetles


 (http://estiarana.blogspot.com/2011/02/klasifikasi-kumbang-kepik-koksi.html)












ANATOMI














 


Kumbang koksi (kumbang kepik) memiliki penampilan yang cukup khas sehingga mudah dibedakan dari serangga lainnya. Tubuhnya berbentuk nyaris bundar dengan sepasang sayap keras di punggungnya. Sayap keras di punggungnya berwarna-warni, namun umumnya berwarna mencolok ditambah dengan pola seperti totol-totol. Sayap keras yang berwarna-warni itu sebenarnya adalah sayap elitra atau sayap depannya. Sayap belakangnya berwarna transparan dan biasanya dilipat di bawah sayap depan jika sedang tidak dipakai. Saat terbang, ia mengepakkan sayap belakangnya secara cepat, sementara sayap depannya yang kaku tidak bisa mengepak dan direntangkan untuk menambah daya angkat. Sayap depannya yang keras juga bisa berfungsi seperti perisai pelindung.

Kumbang koksi (kumbang kepik) memiliki kaki yang pendek serta kepala yang terlihat membungkuk ke bawah. Posisi kepala seperti ini membantunya saat makan hewan-hewan kecil seperti kutu daun. Di kakinya terdapat rambut-rambut halus berukuran mikroskopis (hanya bisa dilihat dengan mikroskop) yang ujungnya seperti sendok. Rambut ini menghasilkan bahan berminyak yang lengket sehingga kepik bisa berjalan dan menempel di tempat-tempat sulit seperti di kaca atau di langit-langit. 
Daur  hidup
Kumbang helm ini termasuk serangga dengan metamorfosis sempurna  yaitu telur -- larva -- kepompong dan imago 

1. Telur    

Telur biasanya diletakkan berleompok sekitar 50 butir berbentuk lonjong  Kuning dan biasanya menetas setelah satu minggu




2. Larva
larva berbentuk hitam dengan adanya garis putih .Larva kumbang kepik umumnya memiliki penampilan bertubuh panjang, diselubungi bulu, dan berkaki enam. Larva ini hidup dengan makan sesuai makanan induknya dan ketika mereka bertumbuh semakin besar, mereka melakukan pergantian kulit.

 









3. Kepompong
Larva kumbang kepik yang sudah sampai hingga ukuran tertentu kemudian akan berhenti makan dan memasuki fase kepompong pada usia dua minggu sejak pertama kali menetas. Kepompong ini biasanya menempel pada benda-benda seperti daun atau ranting dan berwarna kuning dan hitam

 


4. Imago
 
Kumbang koksi atau kumbang kepik dapat hidup sampai 2 – 3 tahun di habitannya. 


MAKANAN KUMBANG HELM/KOKSI

KUMBANG INI MERUPAKAN MUSUH ALAMI YANG HARUS DI JAGA
Kumbang kepik dikenal sebagai salah satu pembasmi hama ramah lingkungan. Mayoritas dari kumbang koksi atau kumbang kepik adalah karnivora yang memakan hewan-hewan kecil penghisap tanaman semisal kutu daun (afid). Larva dan kumbang kepik dewasa dari spesies yang sama biasanya memakan makanan yang sama. Kumbang Kepik makan dengan cara menghisap cairan tubuh mangsanya. Di kepalanya terdapat sepasang rahang bawah (mandibula) untuk membantunya memegang mangsa saat makan. Ia lalu menusuk tubuh mangsanya dengan tabung khusus di mulutnya untuk menyuntikkan enzim pencerna ke tubuh mangsanya, lalu menghisap jaringan tubuh mangsanya yang sudah berbentuk cair. Seekor kumbang kepik diketahui bisa menghabiskan 1.000 ekor kutu daun sepanjang hidupnya.  


CATATAN PENTING  : Tetapi tidak semua kumbang kepik membawa manfaat bagi manusia. Beberapa spesies kumbang kepik semisal kumbang kepik Jepang dan kumbang kepik dari spesies Epilachna admirabilis (lihat gambar di bawah) diketahui memakan daun tanaman budidaya semisal daun terong sehingga merusak tanaman dan dalam hal ini merugikan petani. Kumbang kepik tersebut biasanya meninggalkan jejak yang khas pada daun bekas makanannya karena mereka tidak memakan urat daunnya. 




 

 Seperti kebanyakan serangga dan hewan, kepik koksi di wilayah empat musim juga melakukan hibernasi (tidur panjang di musim dingin). Kepik koksi biasanya berkumpul dalam jumlah besar di tempat-tempat seperti di bawah balok kayu, kulit batang, atau timbunan daun saat berhibernasi. Selama periode tidur panjang itu, mereka bertahan dengan memanfaatkan persediaan makanan di tubuhnya.



Kumbang kepik memiliki cara unik dalam mempertahankan diri. Bila merasa terancam bahaya, ia akan berpura-pura mati dengan cara membalikkan tubuhnya dan menarik kakinya ke dalam. Sebagai mekanisme perlindungan lebih lanjut, ia akan mengeluarkan cairan berwarna kuning dari persendian kakinya. Cairan ini memiliki bau dan rasa yang tidak enak sehingga jika berhasil, pemangsanya tidak jadi memakannya karena tidak tahan dengan cairan tersebut.

 
REPRODUKSI
 
Reproduksi dan Daur Hidup kumbang kepik / kumbang koksi


Kumbang kepik melakukan perkawinan agar bisa berkembang biak. Kadang-kadang ada 2 kumbang kepik yang memiliki corak warna berbeda, namun tetap bisa melakukan perkawinan dan berkembang biak secara normal karena kadang dari spesies kumbang kepik yang sama bisa memiliki corak warna (variasi sayap elitra) yang berbeda. Kumbang kepik betina dari jenis kumbang kepik karnivora selanjutnya memilih tempat yang banyak dihuni oleh serangga makananannya agar begitu menetas, larvanya mendapat persediaan makanan melimpah. Pada kumbang kepik pemakan daun, betina yang baru bertelur di suatu tanaman akan meninggalkan pola gigitan pada daun agar tidak ada betina lain yang bertelur di tanaman yang sama. Di wilayah empat musim, jika kumbang kepik betina tidak berhasil menemukan tanaman yang cocok hingga menjelang musim dingin, maka kepik betina akan menunda pelepasan telurnya hingga musim dingin usai.

Sumber: 

 1. (.http://id.wikipedia.org/wiki/Kumbang_koksi)
   2.     (http://estiarana.blogspot.com/2011/02/klasifikasi-kumbang-kepik-koksi.html)


  .

Senin, 20 Juni 2011

MUSUH ALAMI WERENG

Musuh Alami ini bisa berupa Predator atau parasit.
Beberapa Predator Wereng yang ada di pertanaman yang perlu dilestarikan:


1) Laba-laba Serigala (Lycosa pseudoanulata)

Laba-Iaba ini aktif mencari dan memburu mangsanya. Kemampuan memangsa­nya tinggi antara lain tergantung dari ukuran mangsa dan keaktifan dari mangsa. Mangsa yang lebih besar akan diperlukan lebih kecil jumlahnya dibandingkan de­ngan mangsa yang kecil. Kemampuan predator ini menangkap dan memangsa ha­ma yang kurang aktif seperti nimfa N. virescens, sangat kecil sekitar 0,293 - 3,75 ekor/hari. Demikian juga terhadap imago yang sangat aktif (lincah), laba-laba ini hanya dapat menangkap 0,13 ekor/hari pada ruangan 35 x 35 x 35 cm, tetapi kemampuan memangsanya tinggi, dapat mencapai 20 ekor/hari bila laba-Iaba diberi mangsa imago wereng hijau pada tabung berdiameter 3 cm dan panjang 15 cm.

Kemampuan memangsa predator ini terhadap wereng coklat dapat mencapai 10 -­ 20 ekor imago/hari atau 15 - 20 nimfa/hari. Beberapa jenis mangsanya adalah wereng coklat, wereng hijau, wereng punggung putih, hama putih, hama putih palsu dan lalat bibit.

Laba-laba ini mempunyai ukuran 5 - 18 mm dengan ciri-ciri pada bagian punggungnya terdapat 3 buah garis dan pada tubuh bagian 'cephalothorax' depannya terdapat tanda bentuk Y serta disekitar matanya berwarna gelap (hitam). Kebiasaan hidupnya berada di bagian bawah batang atau di atas permukaan air pada siang hari dan pada malam hari biasanya berada pada daun bagian atas. Rentangan hidupnya 100 hari dan jumlah telur yang dihasilkan 380/betina.

Laba-laba betina dan jantan dapat dibedakan dengan melihat palpus yang me­nyerupai sarung tinju di kedua samping kepala yang hanya dijumpai pada jenis betina. Adapun predator yang dimaksud seperti pada gambar 4 berikut :


 2) Laba-laba Bermata Jalang (Oxyopes javanus)

Laba-laba ini merupakan laba-laba aktif yang memburu mangsanya. Jenis mangsanya wereng batang coklat, wereng hijau, wereng punggung putih (8 ekor/hari), wereng zigzag, lalat padi, hama putih dan hama putih palsu. Laba-Iaba ini mem­punyai ciri-ciri sebagai berikut: ukuran 7 - 10 mm, pada tungkai terdapat duri-duri yang panjang dengan mata berbentuk segi enam. Rentang hidup 150 hari dengan jumlah telur yang dihasilkan 350/betina. Adapun predator yang dimaksud sebagaimana gambar 5 berikut 





3) Laba-laba Berahang Empat (Tetragnatha spp.)

Laba-Iaba ini tidak begitu aktif menyerang mangsanya. Disiang hari laba-Iaba ini banyak diam dan dimalam hari aktif membuat sarang dan mangsa yang terjerat oleh sarangnya baru ditangkap serta dimakan. Jenis serangga yang dimangsa adalah wereng coklat, wereng hijau, wereng pungguh putih, wereng hijau, wereng punggung putih, wereng zigzag dan lalat padi.

Ciri-ciri predator tersebut sebagai berikut: panjang tubuh 10 - 25 mm, memiliki rahang, tungkai-tungkainya panjang dan dalam keadaan diam/beristirahat sering terjulur dalam satu garis. Rentang hidupnya 150 hari dan jumlah telur yang dihasilkan 120 butir/betina. Kebiasaan hidupnya adalah berada pada daun dimana laba-laba tersebut membentuk sarangnya. Adapun predator tersebut sebagaimana gambar 6 berikut :


4) Kepik Permukaan Air (Microvellia douglasi atrolineata)

Kepik ini hidupnya bergerombol dipermukaan air dan sangat aktif menyerang hama/serangga yang jatuh dipermukaan air dan tertarik oleh sinar.

Jenis mangsa predator ini adalah wereng coklat, wereng hijau, wereng punggung putih, larva penggerek batang padi dan yang baru menetas.

Kepik ini panjangnya 1,5 mm dengan ciri-ciri pada bagian bahu melebar, warna bahu hitam mengkilat, tungkai-tungkainya terletak pada jarak yang sama disepanjang tubuhnya dan alat mulutnya tipe mengisap. Rentang hidupnya 45 hari dan jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina adalah 100 butir. Adapun predator yang dimaksud sebagaimana gambar 7 berikut :


5) Kepik Mirid (Cyrtorhinus lividipennis)

Kepik ini berwarna hijau dan biasanya dijumpai pada tempat yang hamanya tinggi. Predator ini aktif memburu mangsa dan gerakannya seperti wereng coklat dan pada malam hari mempunyai silat tertarik terhadap cahaya sinar. Jenis mangsanya wereng coklat, wereng hijau, wereng punggung putih, wereng zig-zag dan lalat padi.

Predator tersebut mempunyai ukuran tubuh 2,5 - 3,25 mm dengan ciri-ciri ber­warna hijau terang dan pada bagian kepala dan bahu terdapat warna hitam. Alat mulut predator ini bertipe mengisap. Rentang hidupnya 30 hari dan seekor betina dapat menghasilkan telur 30 butir. Predator ini hidup pada tanaman padi, gulma dan tanaman lain. Adapun predator tersebut sebagaimana gambar 8 berikut :


6) Kumbang Stacfilinea (Paederus fuscipes)

Predator ini aktif mencari mangsa pada malam hari dan dapat berenang di air atau pada bagian tanaman. Jenis mangsanya adalah wereng coklat, wereng hijau, hama putih, wereng zig-zag, wereng punggung putih dan larva ulat bulu yang masih muda.

Predator ini mempunyai ukuran 7 mm dengan ciri-ciri sayapnya hanya separuh tubuh, ujung abdomen berwarna biru, tubuh bergaris-garis dan alat mulutnya bertipe mengunyah. Rentang hidupya 90 - 110 hari dan jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina sebanyak 24 butir. Adapun predator tersebut sebagaimana gambar 9 berikut:


7) Kumbang Karabid (Ophionea nigrofasciata)

Predator ini aktif mencari mangsa pada siang hari dan dapat berenang. Jenis mangsanya adalah wereng coklat, wereng hijau, hama putih, wereng zig-zag, wereng punggung putih, ulat bulu, ulat jengkal dan penggerek batang padi. Tempat hidupnya di pangkal batang atau di tanah yang tidak berair.

Predator ini mempunyai ukuran panjang tubuh 8 mm dengan ciri-ciri tubuh mengkilat, kulit halus, kepala dan perut bagian tengah berwarna hitam kebiru-biruan. Atau mulutnya bertipe mengunyah. Rentang hidupnya 15 hari dan jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina adalah 45 butir. Adapun predator tersebut sebagaimana gambar 10 berikut :



8) Capung jarum (Agriocnemis spp.)

Kinjeng dom atau sering juga disebut capung kecil biasanya dijumpai di bawah tajuk tanaman dan bila hinggap pada batang tanaman tubuhnya mengarah lurus ke bawah. Capung ini merupakan predator wereng hijau, wereng coklat, wereng punggung putih dan hama putih palsu.

Predator ini mempunyai panjang tubuh 30 mm dengan ciri-ciri tubuhnya ramping berwarna merah oranye atau abu-abu kebiru-biruan dan sayapnya mempunyai bentuk jaringan yang rumit. Rentang hidupnya 10-30 hari dan jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina adalah 30 butir. Adapun predator tersebut sebagaimana gambar 11 berikut :



9) Belalang Bertanduk Panjang (Conocephalus longipennis)

Predator ini sangat aktif dipagi hari, merupakan predator telur penggerek batang dan predator wereng coklat, wereng hijau, wereng zig-zag dan wereng punggung putih.

Predator ini mempunyai panjang tubuh 25 - 32 mm dan mempunyai ciri khas antenanya 2 - 3 kali panjang tubuhnya dan tubuh berwarna hijau. Tempat hidupnya pada daun atau malai tanaman padi.

Rentang hidup predator ini 110 hari dan jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina berkisar antara 15 - 30 butir. Adapun predator tersebut sebagaimana gambar 12 berikut :



10) Kumbang Koksinelid (Synharmonia octomaculata)

Kumbang ini merupakan predator wereng batang coklat, wereng punggung putih, wereng hijau, wereng zig-zag, aphis, hama putih palsu dan penggerek batang padi. Larva predator ini aktif memangsa secara berkelompok.

Predator ini mempunyai ukuran tubuh 6 - 7 mm. Kumbang dewasa berbentuk bundar memanjang berwarna kuning, tubuh larva beruas-ruas dengan alat mulut mengunyah. Tempat hidupnya pada seluruh bagian tanaman. Rentang hidupnya 150 hari dengan jumlah telur yang diletakkan oleh seekor betina adalah 45 butir. Adapun predator tersebut seperti pada gambar 13 berikut :


Sabtu, 04 Juni 2011

AGENSI HAYATI

PENGERTIAN:


Agens hayati adalah setiap organisme yang dalam semua tahap perkembangannya dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan dalam proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluannya.

Jenis organisme yang termasuk agens hayatiOrganisme yang termasuk dalam agens hayati, yaitu spesies, subspecies, varietas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma.

Pengelompokan agens hayati
Agens hayati dikelompokan dalam: 1) Musuh alami, terdiri atas: predator, parasitoid, pathogen serangga, dan antagonis pathogen,
                                                              2) Biopestisida.

Predator: adalah hewan yang memangsa hewan lain. Predator membunuh beberapa individu mangsa selama satu siklus hidup. Yang termasuk predator antara lain kumbang coccineliddae, laba-laba, tawon, tungau predator, belalang sembah.
 capung

laba-laba
 predator tikus (burung hantu)
 predator wereng



Parasitoid: Serangga parasitoid stadia belum dewasa (nimfa, larva) berkembang pada atau di dalam satu inang, memakan jaringan inangnya dan akhirnya membunuh inangnya. Parasitoid dewasa hidup bebas dan mungkin memangsa. Yang termasuk parasitoid, antara lain serangga yang tergolong dalam family Braconidae, Ichneumonidae, dan Trichogrammatidae.
Siklus Parasitoid
parasitoid pada telur                                                             
Patogen serangga:
 Patogen serangga adalah mikroorganisme (cendawan,bakteri, virus, protozoa, nematode dan mikroba lainnya) yang dapat menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada serangga hama. Secara spesifik mikroorganisme yang dapat menibulkan penyakit pada serangga disebut“mikroorganisme entomopatogen”
Karakteristik Patogen :
  • Menyebabkan pertumbuhan terhambat, menghambat reproduksi, membunuh inang
  • Memiliki target inang spesifik atau stadium spesifik
  • Efektifitas sangat tergantung pada kondisi lingkungan
  • Dapat menyebabkan epizootic (ledakan [enyakit di dalam populasi serangga)
  • Tingkat pengendalian tidak dapat diprediksi, relative lambat (memerlukan waktu untuk dapat mengendalikan)
Jenis dan Ciri-ciri

1. Cendawan
Cendawan yang berfungsi sebagai cendawan pathogen seranggan pada umumnya dari kelas Deuteromycetes, ordo Moniliales, famili Moniliaceae, seperti Beauveria bassinana, Metarhizium sp., Hirsutella citriformi, Nomuraea rileyi.
Cendawan mematikan hama dengan cara mengifeksi tbuh inang. Perkembangan infeksi sangat dipengarhi kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban yang tinggi). Suhu optimum untuk pertumbuhan cendawan pathogen 23-25 oC

a. Beauveria bassiana

Beauveria bassiana termasuk dalam golongan pathogen serangga ordo Monililes, famili Moniliaceae.

Ciri-ciri

  • cendawan berwwarna putih, penyebaran spora melalui air atau terbawa angina
  • Menginfeksi serangga melalui integument/jaringan lunak. Selanjutnya hifa tumbuh dari konidia dan merusak jaringan
  • Cendawan tumbuh keluar dari tubuh inang pada saat cendawan siap menghasilkan spora untuk disebarkan
  • Apabilakeadaan tidak mendukung, perkembangan cendawan hanya berlangsng didalam tubuh serangga tanpa keluar menembus integument.
  • Tubuh serangga mati yang terinfeksi B bassiana mengeras seperti mumi
  • Serangga inang dari cendawan ini adalah berbagai jenis wereng,penggerek batang padi, hama putih palsu, walang sangit, kepinding tanah, ulat rayak, Aphis, Ulat daun dll.
b. Metarhizium sp

Metarhizium termasuk golongan pathogen serangga ordo Moniles, famili Moniliaceae

Ciri-ciri :

  • Cendawan berwarna putih, penyebaran spora melalui air atau terbawa angin
  • Spora menginfeksi tubuh serangga melalui integument/jaringan lunak. Selanjutnya hifa tumbuh dari konidia dan merusak jaringan
  • Cendawan berkembang membentuk hifa putih yang keluar dari tubuh inang pada saat cendawan siap menghasilkan spora untuk disebarkan
  • Pada saat spora terbentuk, cendawan pathogen berubah warna menjadi hijau gelap (M. anisopliae), atau hijauderah (M. flvoride)
  • Serangga inang dari cendawan ini adalah berbagai jenis wereng, kepik, dan kumbang.
2. Bakteri

Bakteri Patogen serangga yang banyak dimanfaatkan dan diproduksi secara komersial sebagai insektisida mikroba adalah Bacillus thuringiensis. Bakteri ini termasuk dalam famili Bacillaceae, menghasilkan metabolic sekunder berlangsung ketika masa pertumbuhan vegetatif atau sporulasi.

Ciri-ciri :

  • Serangga yang terinfeksi B. thurigensis menunjukkan gejala penurunan aktifitas makan dan cenderung mencari perlindungan (dibawah daun/tempat tersembunyi).
  • Larva mengalami diare, mengeluarkan cairan dari mulutnya, mengalami lumpuh dan akhirnya mati
Serangga inang dari bakteri ini adalah Plutella xylostela, Crocidolomia
binotalis, Helicoverpa armigera, Spodoptera exigua, Hama kelapa sawit
dan kedelai.
3. Virus (NPV = Nuclear Pholyhedrosis Virus)

NPV (Nuclear Pholyhedrosis Virus) merupakan virus serangga tergolong dalam famili Baculoviridae (baculovirus)

Ciri-ciri :

  • Ciri yang khas yaitu berupa bahan inklusi (inclusion bodies) berbentukpolyhedral yang merupakan kristal protein pembungkus virion, dengan diameter 0,2-20µm, sedang vironnya berbentuk batang berukuran40-70x200-400 µm.
  • Larva yang terinfeksi menunjukkan gejala serangan 1-2 hari setelah polyhedral termakan.
  • NPV menyerang larva asing inang yang spesifik.
Serangga inang NPV adalahSl-NPV (untuk Spodoptera litura), Se-NPV (untuk S. exigua pada tanaman bawang merah) dan Ha-NPV (Helicoverpa armigera pada tanaman tomat dan jagung).
4. Nematoda

Nematoda pathogen serangga (NPS) yang beerpotensi untuk dimanfaatkan sebagai agen pengendali hama adalah Steinernema dan Heterorhabditis.

Ciri-ciri :

  • Serangga bersifat aktif mencari mangsa dan mampu mencapai serangga yang teletak dalam habitat tersembunyi dalaml liang gerek dan di dalam tanah.
  • Masuk dalam tubuh serangga inang melalui lubang-lubang alami atau melalui membrane antar skeleton
  • Stadia infektif adalah instar ke tiga yang disebut Juvenil Infektif (JI)
  • Setelah 1-2 minggu, Juvenil Infektif baru yang terbentuk meninggalkan tubuh serangga mati dan mencari inang baru.
Serangga inang dari kedua genus nematode tersebut bersifat patogenik terhadap 25 % species serangga dari 10 ordo dan bahkan tifdak kurang dari 200 species serangga dari 6 ordo sangat rentan terhadap infeksi NPS. 

Antagonis pathogen: Mikroorganisme yang menyebabkan terhambat, disintegrasi dan atau matinya pathogen. Yang termasuk dalam antagonis pathogen, antara lain bakteri dan cendawan, virus, dan nematode.

BIOPESTISIDA : Pestisida yang bahan aktifnya berasal dari mahkluk hidup, yaitu mikroorganisme (pestisida mikroba) dan tanaman (pestisida nabati).
Keuntungan yang diperoleh
1. Agens hayati memiliki inang spesifik dan kisaran inang sempit;
2. Aman bagi lingkungan, digunakan sebagai alternative pengendalian yang aman bagi organisme bukan sasaran termasuk manusia dan serangga-serangga yang berguna;
3. Dapat dipadukan dengan cara pengendalian lainnya, misalnya kultur teknis, varietas tahan, dan kimiawi.

Prosedur umum pengembangan agens hayati
1. Eksplorasi
2. Isolasi
3. Identifikasi
4. Uji keefektifan
5. Uji keamanan
6. Uji kestabilan genetik dari agens antagonis (tidak menurun virulensinya)
7. Uji potensi produksi massal
8. Formulasi agens antagonis yang efisien tetapi tetap efektif
9. Uji kestabilan dalam bentuk formulasi dan masa simpangan
10. Potensi pasar
11. Evaluasi biaya produksi
12. Analisis perolehan dari investasi
13. Pengujian lapang
14. Membuat hak paten agens pengendali hayati
15. Komersialisasi dan pemasyarakatan produk biopestisida.
NOTE : Untuk wilayah UPTD II Sumberjambe telah tersedia agensi hayati  ferticilium (berguna untuk mengendalikan serangga pengisap)  dan beveria yang di produksi oleh PPAH Kalisat

Referensi:
1. Hoffman, M.P. and Frodsham, A.C. 1993 Natural Enemies of Vegetable Insect Pests. Ithaca, N.Y. A Cornell Cooperative Extension Publication.
2. Shepard, B.M, Carner, G.R, Barrion, A.T, Ooi, PAC, Van Den Berg. 1999. Insect and their Natural Enemies Associated with Vegetables & Soybean in Southeast Asia. South Carolina: Quality rinting Company.

(Sumber : saungsurip dan pangkalan data opt.net)

Minggu, 29 Mei 2011

MUSUH ALAMI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA

Mengendalikan hama menggunakan predator dannematoda tidak semudahmenyemprot dengan pestisida namun cara pengendalian dengan musuh alami ini lebih disukai karena aman bagi lingkungan dan murah.

Pengendalian hama tanaman menggunakan musuh alami sejak 1987 kembali popular setelah pestisida yang semula diandalkan, ternyata menimbulkan berbagai bencana yang kian sulit diatasi. Pengendalian yang resikonya justru lebih gawat daripada serangan hama.Sementara hama yang disemprot malah kebal dan keturunan yang dihasilkan semakin banyak

Musuh Alami Lebih Aman

“Pengalaman buruk itu mendasari penggunaan kembali musuhalami untuk mengendalikan populasi hama.”kata Oka.pengendalian dengan musuh alamiwaktu zaman Belanda memang pernah dipakaiuntuk mengatasi hama kelapa dan tebu. Sejak 1979 cara pengendalian ini ditetapkan sebagai komponen PHT ,program nasional pengendalian hama yang mendahulukan pemanfaatan musuh alami sebelum memakai pestisida.

Pada era petani ‘getol’ memakai insektisida, serangan wereng pernah mewabah disentra produksi padi. Namun sejak penggunaan insektisida dibatasi sehingga musuh alami, yaitu predator dan parasit (predator adalah binatang yang suka makan hama, sedangkan parasit hidup dalam tubuh hama) tidak terbunuh, “tak terdengar lagi ada laporan wereng mengacau tanaman petani,” kata Oka.

Menurut ahli hama yang pernah mendatangkan predator dan prasit kutu loncat dari Hawaii ini, dengan musuh alami produksi tanaman tetap mantap, lingkungan dan petani tetap sehat. Dan subsidi pemerintah bisa dikurangi

Nemaatoda Sebagai Musuh Hama

Menurut dr. sudjarwo, staf pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto, selain predator dan parasit, Nematoda juga berpotensi sebagai pengendali hama. Meskipun demikian, ia mengakui pengendalian hama dengan Nematoda belum pernah dilakukan di Indonesia. “Saat ini fokusnya baru kepada predator dan parasit,” katanya.

Nematoda umumnya dipandang sebagai cacing renik pengganggu tanaman. ”Anggapan itu tidak salah,” Komentar Sudjarwo. Dialam memang terdapat jenis Nematoda yang menjadi parasit binatang. “Nematoda jenis inilah yang dipakai untuk mengendalikan hama,” ulasnya.

Saat ini pengendalian hama dengan Nematoda berkembang dengan pesat di Amerika Serikat. Kebanyakan petani anggur dan cranberry selalu bekerja sama dengan ocean spray, koprasi petani buah terbesar disana. Konon, pengendalian serangan kumbang bubuk dengan Nematoda bisa mencapai 90-96%. Hal ini membuat EPA (Environmetal Protection Agency), lembaga perlindungan lingkungan Amerika Serikat, semakin giat meneliti efektifitas Nematoda, untuk melengkapi teknik pengendalian memakai musuh alami yang telah lebih dulu dikenal.

Pengendalian Lebih Efisien

Keberhasilan pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh alami umumnya tidak dapat langsung terlihat dan sulit diamati secara jelas. Meskipun demikian, baik Oka maupun Sudjarwo Sependapat, teknik ini jauh lebih efisien daripada pengendalian memakai bahan kimia. “Musuh alami’kan tidak tidak perlu beli. Lagi pula, penekanan populasi hama berlangsung lama penaganannya tak perlu dilakukan berulang- ulang seperti pada penggunaan pestisida,” Kata Oka

Teknik pengendalian memakai musuh alami paling tepat untuk mengatasi hama tanaman perkebunan, karena ekosistemnya stabil. Untuk tanaman pangan yang umumnya dipanen tiap 3 atau 4 bulan, Sudjarwo menyarankan, “Musuh alami yang harus dijaga agar sampai terkena pengaruh buruk pestisida.”
Dalam program PHT, penggunaan pestisida harus selalu didasari pada pengamatan populasi hama. Jika dengan cara pengendalian lainnya populasi hama tetap mencapai batas ambang ekonomi (batas yang dapat menimbulkan kerugian jika populasinya tidak segera dikendalikan), pestisida baru boleh dipakai. Itu pun harus yang berspektrum sempit dan tidak membunuh musuh alami. (Nursasongko Anwar/ Peliput Suci PS.)