Kamis, 08 Maret 2012

HAWAR DAUN BAKTERI (XANTHOMONAS ORYZAE)


STATUS
Penyakit hawar daun bakteri (HDB) disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Penyakit ini dapat menginfeksi tanaman padi mulai dari pembibitan sampai panen. Ada dua macam gejala penyakit HDB. Gejala yang muncul pada saat tanaman ber umur kurang dari 30 hari setelah tanam, yaitu pada persemaian atau tanaman yang baru dipindah ke lapang, disebut kresek. Gejala yang timbul pada fase anakan sampai pemasakan disebut hawar (blight).
Di Indonesia, luas penularan penyakit HDB pada tahun 2006 mencapai lebih dari 74 ribu ha, 61 ha di antaranya menyebabkan ta naman puso. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan luas penular- an pada tahun 2005 yang baru men- capai 33,8 ribu ha. Data lima ta- hunan menunjukkan, puncak penularan HDB terjadi pada bulan Maret (rata-rata 5.832 ha) dan terendah pada November (rata-rata 636 ha).
Kerusakan secara kuantitatif akibat penyakit ini adalah turunnya hasil panen dan rendahnya bobot 1.000 biji, sedangkan kerusakan secara kualitatif ditunjukkan oleh tidak sempurnanya pengisian ga- bah dan gabah mudah pecah pada saat digiling. Kerusakan sedang berkisar antara 10-20%, sementara kerusakan berat mencapai lebih dari 50%. Penurunan hasil padi aki- bat HDB umumnya berkisar anta- ra 15-23%.

PERKEMBANGAN SEL BAKTERI XOO
Sel bakteri Xoo tumbuh dan ber- kembang biak sangat cepat. Pada awal pertumbuhannya, baik pada daun padi varietas tahan maupun rentan, dalam waktu 2-4 hari sel bakteri berkembang biak dari 10 - 104 menjadi 107-108  sel/ml. Selanjutnya, perkembangan Xoo pada daun varietas tahan lebih lambat dibandingkan pada daun varietas rentan. Hal ini merupakan dampak dari ketahanan varietas terhadap perkembangan penyakit di lapang an.
Proses pembentukan penyakit ditentukan oleh tiga komponen yang selalu berinteraksi, yaitu patogen, inang, dan lingkungan bio tik dan abiotik. Masing-masing komponen dapat berubah sifatnya sehingga bila satu komponen ber- ubah maka akan mempengaruhi tingkat keparahan penyakit.
Contoh komponen inang yang dapat mempengaruhi tingkat penularan penyakit HDB adalah tanaman terlalu muda atau tua, tanaman sangat atau kurang tahan terhadap HDB, dan tanaman yang memperlihatkan keseragaman genetik dalam suatu areal yang
luas. Contoh komponen patogen yang dapat mempengaruhi tingkat penularan adalah sifat avirulen atau virulen dari patogen, jumlahnya sedikit atau terlalu banyak, patogen dalam keadaan dorman atau aktif, dan penyebarannya yang didorong oleh air dan angin. Kondisi lingkungan mempengaruhi kedua komponen lainnya, baik pertum- buhan dan resistensi inang maupun kecepatan tumbuh atau memper- banyak diri dan tingkat virulensi patogen.
Bakteri Xoo mampu membentuk strain baru dengan cepat di lapangan sejalan dengan perkembangan penggunaan varietas padi.
 Dalam keaadaan lembab (terutama di pagi hari), kelompok bakteri,berupa butiran berwarna kuning keemasan , dapat dengan mudah ditemukan pada daun-daun yang menunjukkan gejalah awar Dengan bantuan angin,
 

  
KERUSAKAN
Penyakit HDB menghasilkan dua gejala khas, yaitu kresek dan hawar. Kresek adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur < 30 hari (pesemaian atau yang baru dipindah).
Daun-daun berwarna hijau kelabu ,melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu,dan mati,mirip tanaman yang  terserang  penggerek batang atau terkena air panas (lodoh).










Sementara, hawar merupakan gejala yang paling umum dijumpai pada pertanaman yang telah mencapai fase tumbuhan akan sampai fase pemasakan .Gejala diawali dengan timbulnya bercak abu- abu (kekuningan) umumnya pada tepi daun Dalam perkembangannya ,gejala akan meluas, membentuk hawar (blight), dan akhirnya daun mengering.

 

 

PENGENDALIAN
Adabeberapa cara untuk mengendalikan HDB ini antara lain:
1.    Pergiliran Varietas dan Gunakan Varietas tahan seperti Code dan Angke
Pada saat dilepas pada tahun 1986, IR64 dinyatakan agak tahan HDB strain IV. Saat ini IR64 telah patah ketahanannya sehingga mudah tertular HDB.
Perkembangan strain HDB di Indonesia disajikan pada Tabel 1 Varietas Ciherang yang dilepas pada tahun 2000 telah berkembang luas di sentra produksi padi di Jawa dan menggeser dominasi IR64 yang dilepas pada tahun 1986. Sayangnya, varietas Ciherang te- lah mulai patah ketahanannya ter- hadap HDB. Hal ini terkait dengan penanaman secara terus-menerus dari tahun ke tahun sebagaimana halnya IR64. Keadaan di lapangan menunjukkan bahwa ketahanan varietas terhadap HDB selalu berubah setelah enam musim tanam.
Data penelitian memang menunjukkan bahwa varietas yang awalnya tahan HDB menjadi rentan akibat penanaman secara terus-menerus (
Tabel 2). Varietas Ciherang yang pada saat dilepas pa- da tahun 2000 dinyatakan tahan HDB, misalnya, menurun ketahan- annya setelah dikembangkan se- cara luas. Bahkan Ciherang sudah rentan terhadap penyakit ini sejak MT 2006/07.
Cara yang dianjurkan untuk mengendalikan penyakit ini adalah melalui pergiliran varietas atau menanam varietas yang berbeda dalam satu hamparan. Pada tahun
2008 dan 2009,
 
Tabel   1. Perkembangan strain HDB di beberapa daerah penghasil padi.
Tahun

1977
Strain

II, III, IV, V
Daerah penularan

Sulawesi Selatan, Jawa, Bali,


Kalimantan
1980
III, IV, V, VI, VIII

1996/97
IV, VII, X
Jawa Barat
1997
III, IV, VII, VIII
Jawa Barat
1997/98
VIII, XII
Jawa Barat
1998
VIII
Jawa Barat
1998/99
V, VIII, X
Jawa Barat
1999/2000
III, IV, VIII
Jawa Barat, Jawa Tengah,


DI Yogyakarta
2000
V, VI, VIII, X
Jawa Tengah
2001
III, IV, VIII
Jawa Barat
2009
X
Jawa Barat
(warta penelitian dan pengembangan pertanian vol 31 no 5 2009)

2.    Gunakan pemupukan berimbang, Hindari  pemakaian pupuk N berlebihan
Semakin banyak penggunaan pemupukan N maka semakin rentan terhadap serangan HDB
3.    Buang semua sumber inang yang berasal dari jerami terinfeksi, tunggul, singgang dan gulma
4.    Hindari penggenangan yang terus menerus, 1 hari digenangi, 3 hari dikeringkan
Gunakan Pestisida berjenis Bakterisida seperti Agrept
5.    Lakukan seed treatment (perendaman benih  sebelum semai) menggunakan
-          Pestisida nabati seperti minyak dari serai wangi,
-          Pestisida  hayati dengan memanfaatkan bakteri antagonis
-          Pestisida sintetik seperti Agrept

 
Anonim , 2007, Masalah lapang hama penyakit hara pada padi,Pusat penelitian dan pengembangan tanaman pangan
Anonym, 2007, Petunjuk Teknis Hama Penyakit, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

Tidak ada komentar: